23 Desember 2008

Antologi Puisi 2

Puisi Fitriyah Qohar

Hanya Jingga

Sorot itu meningalkan Tanya

Melaluai bahasa tanpa suara

Dan isyara tanpa gerak

Gamang

Ku melangkah di atas rerumputan
Yang tak lagi menghijau

Tak ada keindahan

Senja beranjak dari perpaduan

Bibirku terkatup

Diam

Adakah Tanya tak sempat kujawab

Fitriyah Qohar, lahir pada tanggal 2 mei 1989, tepatnya di daerah Ambunten Sumenep. Kini aktif menulis puisi dengan sentuhan bahasa yang lain dengan bahasa puisi yang ditulis kebanyakan penyair.

Puisi Quratul Aini

Baiatku

Ketika gelap menyelimuti bumi

Malaikat membuka piontu langit

Rembulan bersama nujum

Meneranginya

Dengan tanpa pamrih

Dia dan pra malaikat

Menyaksikan manusia yang beruntung

Manusia yang akan dbaiat pada genderang malam

Asyhadu alla ila ha illallah

Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah

Lantunan sahadat

Yang dilantunkan dari lisaN seroang pergedakan menyegarkan semua tubuhku

Nafas terengah seakan tak mampu bvernafas kembalai

Hatiku terasa bnerat

Aku

Takut tidak mampu

Atas

Apa yang telah aku janjikan

2008

Quratul Aini, lahir di seberang sana. Tepatnya di desa Kasengan, Manding, Sumenep. Terlahir pada tanggal 1 Desember 1989

Puisi Fatimatuzzahrah

Keabadian Cinta

Aku

Semua mati

Itulah adanya

Tertulis dalam jauh sana

Karena keabadian

Hanya milik Tuhan

Aku

Semua

Kematian tak mengenal aba-aba

Tidak seperti hujan

Di dahului kabut tebal

Dengan petir menggelegar

Aku

Semua

Siap-siaplah

Jangan buat kaku

Jangan menengadah dalam segelintir doa

Tuk Tuhan yang mengindah

Aku

Semua

Asa yang terselubung dalam kedamaian jiwa

Tak semua dapat

Terjamah dengan

ukuran tangan yang tak seberapa

aku

bersyukur wajib bagiku

Karena Tuhan

Wujudku masih utuh

Sedikitpun tak tertulis

Oleh tajamnya belati dunia

2008

Fatimatuzzahrah, lahir di desa Gapura, Kecamatan Gapuran, Sumenep. Lahir pada tanggal 19 oktober 2009

Puisi Siti Aminah

Cahaya Gelap ; PMII

Empat puluh delapan tahun yang lalu

Ketika sinar mentarri

Masih belum sempurna menyapa dunia

Bersama sembilan bintang

Kau nekat goreskan cahaya

Diantara tetes darah pewaris peradaban

Hingga adamu mampu menjadi cerita

Di setiap lembar manusia

Kau, yang tak bisa kusebut namanya

Perlu kukabarkan bahwa malaikat-malaikat kecil

Yang kau anggap suci

Dan selalu setia menjunjung namamu

Diam-diam telah menyelipkan bangkai busuk

Diantara celah-celah ruang pengabdianmu

Hingga baunya yang menusuk

Membuatku jatuh dan terperosok

Pada sebuah Tanya

Dimana ideologimu!

2008

Siti Aminah, gadis sayu bermata intan. Lahir di desa Batang-Batang Sumenep.

Green mu

Rasa itu hilang ……!!!

Ketika kau hadirkan

Mimpi dalam nayata

Tapi… semua itu

Tak mudah

Kuharus melupakan

Semua kenangan indah

Yang pernah kulukis

Lewat bingkisan

Sebuah cinta

Indati lahir di desa Daramista, Kecamatan Lenteng. Tepatnya pada tanggal, Desember 1988. Bersama puisi merasa menemukan kedamaian. Bahkan, dia dia selalu berjanji menghabiskan hidupnya dengan rajutan sejuta puisi.

Puisi Raudlatul Jannah

Sahabat

Mengapa kita selalu melihat kebelakang

Mengapa kita selalu bangga

Dengan pergantian masa

Yang saat ini

Kita bingung dengan pekerjaan

Sahabat

Mengapa kita selalu menghayal

Tentang keadilan

Tentang kemakmuran

Yang saat ini

Kita selalu berada dalam kemunafikan

Kita selalu berada dalam hamburan dosa

Dan alangkah baiknya

Temukan pada hari kita

Siapa sebenarnya diri kita!

2008

Raudlatul Jannah lahir di Sumenep. Belajar menulis puisi sejak masih usia SD. Sejauh ini dunia puisi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dirinya.

PUisi Siti Hanifah

Sabda Najma

Aku diam bukan bisu

Aku menunduk bukan malu

Tapi, kumenjaga kehormatanku

Aku tertawa bukan sombong

Senyum ini bukan berati genit

Tapi, aku riang dalam kesedihan

kau tak perlu menilaiku dengan kasat mata

sebab aku tak semudah yang kau baca

penglihatan mata itu dusta

kau ingin tahu

rabahlah aku dengan rasa

2008

Siti Hanifah, sapaan akrab hani, lahir di Pamekasan 10 Juni 1988. Kini Kuliah di STIKA Sumenep Madura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar