23 Desember 2008

Antologi Puisi 6

DA - RA

(DemokrAsi – ReformAsi)

Oleh : 2nd H *

Aksi……

Orasi………

Demontrasi….

Terus di adakan

Terus di lakukan

Terus dilaksanakan

Terus terjadi

Menginginkan………………

Perubahan sistem

Perubahan orang-orang

Orang yang belum korupsi

Untuk korupsi

Orang yang belum masuk gedung KPK

Untuk disidik KPK

Orang yang belum masuk penjara

Untuk terdaftar sebagai anggota narapidana

Anak Pertiwi inilah yang telah

Membohongimu, Menghianatimu, Mendustaimu dan Membunuhmu

DARA.

Maafkan DARA ibu pertiwi

Atas rusaknya Negeri ini.

Sumenep, 00.30 wib, 20 Nov 2008

* Hasdani Roi


SAJAK SU. SU.AIDI SAYFI’IE*

TAMAN

“Barangkali dia bukan pacar setia kawan,. Setelah lepas tanagan sebelum senja kali ini”

aku bukan lelaki angkuh, tidak seperti matahari di atas gentingmu ketika terik

atau bara api yang berkobar sedemikian mencekik, kemudian menyentuh

mengjaka perang pada daun atau dahan pohon kering, yang sebelumnya

memang telah lama kelaparan, karena memang betul, yang ternyata sarapannya

telah di curi habis di musim kemarau.

“di restoran sana, meja-meja berjajar rapi” katamu

memesona hati untuk merangkuhnya, apalagi ketika di tambah

menu masakan beranika warna, ada yang hitam pekat,abu-abu,

biru langit, hijau daun belada dan ada pula yang berwarna merah saga

O,iya ketika telah lupa ternyata disana ada yang berwarna jingga.

Semerah dagin kita, atau jangan-jangna itu memang daging kita

Ayang tersayat tatkala kita terperangah dan lupa, lupa paa derik pintu

Ketika mereka buka dengan sdemikian rupa, atau di saat pintu lemari

Dengan lengahnya kita tidak mengunci.

Tidak! Itu bukan alas an tentang berita kehilangan! Karena merka sengaja

Untuk memiliki lalu di letakkan ke kantongnya yang tak ada isi,

Atau kalau masih muat terkadang merka memasukkan ke saku kosong saepi

“memang hutan tak seluas alasan” kata besit hati pelan dalam kertas sunyi,

tapi aku kini yang demikian tawakkal, lagu dan renadah hati

yang di buat sengaja di jadikan mainan oleh merka,katku lagi

padahal semua itu adalah memilikku satu-satunya yang akau punya,

san kata dokter malikat, tidak boleh tersobek walau hanya sekarat daging

sebab betapa besar sakit tubuh ketika sesuit punggung telah di curi

tampa sepengetahuan aku pemilik peribadi, kemudian, kemudian bagaimana duduknya aku ini

“barangkali dia bukan pacar setia, ketika melepas jemarimu sebelum senja itu tiba”

sebab aku bukan lelaki pencuri, tidak seoerti meraka


Wajah Yang Samar

Oleh : Iswatul khomsah

Jika ku robek segumpalan kabut

Yang menutup pada sinar rembulan

Maka wajah sang pengharap

Hanya tersenyum dengangan kemunafikan

Asing rupamu sudah tak menuai anggur

Di dalam kedalaman pencinta dan mimpi

Tersebab senyum sebagai ulasan

Pada bili tersembunyi

Cobalah kau rapatkan dengan cermin

Agar terlihat jelas dalam warna

Tersebab kepulihanmu asaku

Dan hilangku kelemahanmu.

** Pojok STIK@, 22 Januari 2008.


KEMARAU HATIKU

Oleh : Hur Hidayati

Kemarau Hatiku,

Kemarau

Kering kering Aaah, Air-Mu tak Jelma

Air-Mu Tak Jelma

Kemarau hatiku,

Kemarau

Kerontang

Kerontang

Aaah, daundaunnya ranggas

Daundaunnya terserak

Tercecer di tanah-Mu

Tercecer di Tanah-Mu

Adalah

ia menyusup

berburu Rindu

Adalah Air di jiwa bendus

Tak settikp[un ada riak.


BERKELANA DALAM LUKISAN SEJARAH

Oleh: Dedy Eko Reyady

Kaki ini melangkah dengan setatus makna tak terjawab

Mengitari fajar

Yang menaburkan Aroma jiwa

Aku tak percaya langkah ini

Akan membawaku pada sejarah yang ku impi

Sejarah yang membuatku dapat membaca

Hasrat alam semesta

Inilah janji impian yang selalu ku nanti dalam jiwa yang kering.

Aku terkejut dalam nyata yang di hiasi oleh impian

Tatkala kau lemparkan senyum pada diri yang haus akan air mata sucimu

Senyummu telah membuat hati ini hidup kembali

Tatapan wajahmu telah menyuburkan jiwa yang kerontang

Inilah titik kesempurnaan yang ku nanti selama kau pergi

Dalam hidupku

Kepergianmu meninggalkan lukisan sejarah yang tak terhapus

Oleh tetesan bening batu pualam

Yang memancar dari birunya langit

Sinar rembulan meneteskan air kerinduan hingga membisu dalam ruang dan waktu

Tapi dengan satu pertemuan itu, kau telah membuat dedaunan dan ombak mengajakku bernyanyi,bernyanyi dengan lagu yang tak ku kenal

Hamparan pasir dilautan

Gulungan ombk yang menari-nari

Serta hembusan angin laut

Menjadi bukti bisu ketika ku denganmu duduk bersama

Sambil berkelana mengintari lukisan sejarah yang pernah

Kita ukir bersama

Selasa, Juli 2008


Lagu kenangan untuk selatan

Oleh : Sumardono

Warna selatan berkelebat mendayu-dayu

Angin dan daun-daun kersen, pucuk-pucuk bambu dan udara membisu

Berselingkuh dalam deru.

Malam luruh, begitu damai siput kenangan merangkak kesamping

Bulan membawakanku puisi yang mancung seperti bukit merapi

Menyimpan lelendir darah waktu diluar, batu menimbun kelu air mata.

Aku membacamu seperti gunung hijau : batin mengadu kepedihan

Siapa di selatan menggisik biola masa lalu, mendayu-dayu

Gisikan dawai nurani yang pilu, seperti sayu badai di mataku

Mengetuk pintu mata hatiMu

19-20 Februari 2008


Tak pahamkan arti salewhen

Lalu kutulis puisi ini atas hati yang when salewhen,

Kala sebuah kejujuran taklagi menjadi mahkota mu

Kau membuatku salewen,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar